Sunday, 14 Muharram 1430 Sunday, 11 January 2009 00:00 Berbulan-bulan hidup dalam cengkeraman blokade Israel, warga Palestina di Gaza dibuat tidak memiliki kekuatan apa-apa, bahkan untuk bertahan hidup sekalipun. Teror fisik dan psikis merebak. Ruang gerak dipasung. Akses air bersih ditutup. Suplai listrik, bahan bakar, makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lain tidak terpenuhi. Segala musim dan cuaca dilewati dalam segala keterbatasan. Walau saat itu kesepakatan gencatan senjata selama enam bulan masih berlaku, warga Palestina terus menjadi korban kebiadaban Israel. Ratusan orang gugur syahid dan terluka akibat serangan membabi-buta Israel. Jumlah tahanan Palestina di penjara-penjara Israel terus meningkat. Penculikan dimana-mana, yahudisasi merajalela, rumah-rumah dirusak, kamp-kamp pengungsi diobrak-abrik, pohon Zaitun dibabat habis. Dalam kungkungan ketakberdayaan yang sungguh di luar batas kemanusiaan tersebut, Israel tiba-tiba memuntahkan puluhan rudal berkekuatan dahsyat di seluruh wilayah Gaza tepat satu hari pasca berakhirnya gencatan senjata pada 26 Desember 2008. Dalam sekejap, Gaza luluh-lantak. Ratusan orang gugur syahid dan ratusan lainnya terluka. Memasuki hari ke-15, serangan Israel tak juga mereda. Korban terus meningkat hingga 821 orang dan lebih dari 3.300 terluka.
Di tengah hingar-bingar kecaman dunia sekalipun, Zionis Israel kian kukuh mempertahankan serangan biadabnya terhadap Gaza. Resolusi PBB dilanggar. Peraturan internasional diabaikan. Hak asasi manusia diinjak-injak. Gencatan senjata ditolak mentah-mentah. Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert menegaskan, Israel akan mengakhiri serangannya hanya jika Israel berhasil menghentikan serangan roket dari wilayah kekuasaan Hamas. Akibatnya, para pejuang Palestina yang kerap membalas serangan Israel dengan menembakkan beberapa roket ke wilayah Israel dikambinghitamkan sebagai pihak yang memicu Israel untuk menolak gencatan senjata. Padahal intensitas dan jumlah rudal yang ditembakkan tidak sebanding dengan rudal-rudal Israel yang begitu dahsyat meluluh-lantakkan Gaza. Sungguh sebuah upaya legalisasi yang sangat mengada-ada. Sejak dulu, janji yang terlontar oleh Yahudi mustahil berbuah maslahat. Jangankan aturan orang lain, aturan sendiri pun dilanggar. Buktinya, hari suci Sabbath yang seharusnya tidak boleh ada aktivitas, malah digunakan untuk melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza. Dalam serangan ini, runtuhnya kekuasaan Hamas adalah harga mati bagi Israel. Sekuat apapun kecaman dan desakan yang lantang dikumandangkan dunia, Israel akan tetap teguh pada ambisi tersebut. Upaya diplomasi dan gencatan senjata yang diserukan berbagai negara dibuat berbelit-belit dan menuntut sejumlah persyaratan yang tidak masuk akal. Melihat realita tersebut, tidak mustahil skenario Perang Irak terulang kembali. Kala itu, salah satu syarat yang diajukan Israel untuk menyetujui gencatan senjata adalah dilucutinya persenjataan Irak. Setelah syarat tersebut dipenuhi pihak Irak, Israel malah menyerang Irak tanpa ampun. Alhasil, penyerangan Israel jadi lebih mudah dan Irak dapat dipukul mundur dalam sekejap. Semoga Hamas senantiasa konsisten dengan perjuangannya dan tidak termakan berbagai bentuk lobi dan diplomasi Zionis Israel yang tujuan akhirnya membumihanguskan muslimin di bumi Palestina. (nisa/ berbagai sumber)
Last Updated ( Saturday, 17 Dzulhijjah 1430 17:40 )
 |