Saturday, 21 Safar 1431 Saturday, 06 February 2010 16:32 Hampir setengah juta anak-anak Palestina di Gaza kembali ke bangku sekolah yang penuh sesak dan bobrok mulai 1 Februari lalu. Untuk mempermudah kegiatan belajar mengajar, waktu belajar diatur bergantian dengan menggunakan sistem shift, tanpa buku pelajaran, alat tulis, ataupun seragam. "Saya tidak punya seragam sekolah karena Ayah saya tidak memiliki pekerjaan dan beliau tidak punya cukup uang untuk membelikan saya seragam," kata Mohammed al-Khouli (9), murid sekolah dasar Al-Mu’tasem milik pemerintah di Gaza City. "Saya juga harus meminjam pulpen dan pensil dari teman-teman sekelas, karena saya tidak punya." Menurut laporan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), serangan militer Israel selama 23 hari di Gaza yang berakhir pada 18 Januari tahun lalu berimbas pada hancurnya sistem pendidikan Gaza.
Berdasarkan data yang dilansir departemen pendidikan dan United Nations Relief and Works Agency (UNRWA), sejumlah 440.000 siswa mengisi 640 sekolah di Gaza; 383 diantaranya sekolah negeri, 221 sekolah dikelola oleh badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), dan 36 sekolah swasta.
Dalam laporannya OCHA menyebutkan, sedikitnya 280 sekolah rusak akibat Perang Gaza, 18 diantaranya hancur total. Tidak Dibangun Kembali Departemen pendidikan mengatakan, tak ada satupun bangunan sekolah yang direkonstruksi ataupun direnovasi karena Israel melarang material bangunan memasuki wilayah Gaza. Pihak departemen memperkirakan, diperlukan 25.000 ton jeruji besi dan 40.000 ton semen untuk membangun 105 sekolah baru dalam rangka memenuhi peningkatan jumlah anak-anak sekolah setiap tahunnya. "Perang telah dan terus menorehkan dampak yang sangat negatif bagi seluruh sistem pendidikan," Yousef Ibrahim, wakil menteri pendidikan di Gaza, mengatakan kepada IRIN. Sekitar 15.000 anak-anak dari sekolah-sekolah yang rusak dipindahkan ke sekolah lain, dengan waktu belajar pada shift ke dua. Sistem ini secara otomatis mengurangi waktu aktifitas belajar mengajar di kelas. Ibrahim menambahkan, sekolah yang rusak pada umumnya tidak memiliki toilet, akses air dan listrik, ruang kelas yang penuh sesak, dan kekurangan sarana pokok seperti meja, pintu, kursi dan tinta. Menurut Khalil al-Halabi, kepala pendidikan UNRWA di Gaza, UNRWA mulai membagikan buku-buku pelajaran kepada seluruh siswa pada tanggal 4 Februari. Namun, tandasnya, meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan menyebabkan para siswa kelaparan di kelas. "Ribuan anak-anak sekolah yang kehilangan anggota keluarga dan rumah-rumah mereka masih menderita trauma dan kecemasan. Dalam kondisi seperti itu mereka sangat membutuhkan dukungan psiko-sosial dan aktifitas rekreasi," papar OCHA dalam laporannya. "Anak-anak menjerit dan menangis saat mendengar pesawat-pesawat jet Israel," Khalid Salim (43), seorang guru sains di sekolah lanjutan Abu Ja'far Al-Mansour di Gaza utara mengatakan. Meski begitu, tandasnya, kondisi yang serba terbatas ini member kami kesempatan untuk berjuang mengajar anak-anak. (nisa/irin)
 |